Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

Bagaimana Kita Menyikapi tahun baru? (Road to 2012)

Oleh : Ustad M. Yamril Fahrudin

(59)فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا لشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّ
(60)إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

Q.S. Maryam: 59. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Q.S. Maryam: 60. kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,

Pada Surat Maryam di atas ada dua golongan dari manusia, yaitu golongan yang pertama yaitu orang yang menyianyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Sedangkan golongan kedua adalah mereka yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh yang akan masuk ke dalam surga.

Menarik untuk menjadi perhatian kita semua. Dari hasil mutaba'ah kita setiap pekannya bagaimana hasil dari bacaan kita, shalat kita, shaum (puasa) kita apakah meningkat, stagnan atau bahkan menurun?. Para ulama terdahulu mereka tidak mengevaluasi dua hari saja dan dimana dalam dua hari itu tidak meningkat maka termasuk dalam golongan yang ada dalam ayat maryam 59 yaitu fasaufa yal qouna ghayya yaitu termasuk orang atau golongan yang merugi.

Dalam hal ini yang termasuk dalam kategori ittaba'usyahawaat (memperturutkan hawa nafsu) yaitu menempatkan diri kita untuk lebih enak dengan kondisi yang ada. sebagai contoh jika kita terbiasa untuk melakukan shalat dhuha yang hanya dua rakaat dan setelah dua rakaat kita merasa enak (dalam hal ini anda ingin segera untuk melakukan aktifitas lain seperti kantor atau berdagang) maka yang seperti ini termasuk dalam kategori ittaba'usyahawaat. Bagaimana supaya kita tidak termasuk ke dalam golongan ini? ulama berpendapat bahwa kita harus menambahkan dua rakaat lagi dari shalat dhuha kita, supaya menghindari tadi apa itu yang disebut dengan memperturutkan hawa nafsu. contoh lain jika anda shalat malam dua rakaat dan ditambah satu rakaat witir, dalam hal ini jika dalam melaksakan shalat malam anda merasa ingin sekali cepat selesai maka lebih baik anda menambahkan lagi dua rakaat, supaya hawa nafsu untuk mengenakkan diri kita ditekan dengan menambahkan sedikit beban kepada aktifitas yang kita lakukan.

Seorang rasul Muhammad yang beliau sudah maksum selalu menghindarkan diri dari memperturutkan hawa nafsu. Beliau bisa saja tidur di kasur yang empuk, namun Beliau lebih memilih untuk tidur beralaskan pelepah kurma. Beliau bisa saja pergi kemanapun dengan naik kereta namun beliau lebih memilih jalan kaki untuk mendakwahkan Islam. Beliau bisa saja makan kenyang namun Rasulullah rela untuk mengganjal perut sewaktu perang khandaq untuk menahan lapar bersama sahabat yang lain. Subhanallah, dari contoh ini Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menghindari sedikit meng-enakkan tubuh kita. Ada yang mengatakan bahwa saat kita diberikan dua pilihan dimana satu enak sedangkan yang lain tidak enak, kita diharapkan untuk memilih yang tidak enak supaya tidak ada Nafsu yang berturut kepada pilihan kita. Sebuah anekdot yang mengatakan bahwa kita dan nabi hanya Berbeda Sedikit semoga bisa menambah renungan anda: Nabi itu sedikit makan, namun kita sedikit-sedikit makan | Nabi itu sedikit tidur, namun kita sedikit-sedikit tidur | Kita itu sedikit kerja, namun Nabi sedikit-sedikit kerja | Kita itu sedikit ibadah, namun Nabi sedikit-sedikit ibadah

Sedangkan golongan yang termasuk ke dalam menyia-nyiakan shalat yaitu baik mereka yang menyia-nyiakan jumlah ataupun menyi-anyiakan waktu dari shalat. waktu shalat itu dibagi dua yaitu awal waktu dan akhir. tentunya para ulama terdahulu selalu dalam kondisi melaksanakan ibadah Shalat di awal waktu, sedang saat tertinggal rakaat saja ada shahabat yang men-iqob / menghukum diri dengan bersedekah atau dengan ibadah yang lain. Begitu pentingnya Shalat di mata para shahabat sehingga mereka sangat menjaga ibadah yang merupakan rukun Islam yang kedua ini. Karena melakukan ibadah, berbuat baik merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Allah menghitung sebagai sebuah syukur bagi hambanya meski dia belum melakukan apa-apa, namun hambanya menyadari bahwa kehidupan, udara dan segala hal yang diberikan ini merupakan pemberian dari Allah. Dan Allah dengan sifat Maha Pengampunnya selalu memberikan Maaf kepada mereka yang bertaubat dan dengan taubatnya itu sang hamba sudah dimasukkan ke dalam sebuah bentuk syukur (subhanallah). Dan tentunya orang-orang yang bertaubah seperti telah disebutkan dalam surat Maryam ayat ke 60 termasuk orang-orang yang akan masuk surga.

Oleh karena itu: semoga kita di tahun 2012 ini mari kita ber-azzam untuk lebih meningkatkan kualitas serta kuantitas dari ibadah kita, menambah yang masih kurang, yang sudah bagus dipertahankan. karena satu golongan saja yang beruntung yaitu orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus kita persiapkan supaya lebih baik lagi dari hari ini. wallahu a'lam bisshawab. wa 'afwaminkum

Read more!

Jumat, 05 Agustus 2011

Keteguhan dan Ujian yang Menguatkan

“Kiprah mereka hanya satu: teguh dalam gerak dan gerak dalam teguh”

(KH. Rahmat Abdullah)

Dalam rangkaian sejarah, sering kali kita merasakan sebuah ketakjuban akan keteguhan yang dimiliki oleh para pahlawan agung. Dari mereka (baca: para pahlawan agung) kita belajar tentang arti keteguhan itu. Tentu tak mudah untuk membentuk diri kita agar bisa tegar dan teguh dalam menjalani apa yang sudah menjadi komitmen atas nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya. Pasti butuh serangkaian proses, ujian bahkan tantangan yang akan menguji keteguhan kita. Ada paduan keimanan (keyakinan), kesabaran, kekuatan, sekaligus keikhlasan untuk menempa mental dan jiwa kita agar dapat teguh dalam memegang nilai-nilai asasi perjuangan kita.

Keteguhan hati atas nilai-nilai keimanan pula yang membuat seorang Sayyid Quthb dapat dengan gagah dan penuh ketenangan untuk menyambut hukuman gantung yang menantinya. Tragis memang. Tapi tidak demikian yang dirasakan oleh Sayyid Quthb. Sulit untuk menjelaskan hal ini jika naluri dan perasaan manusiawi yang diminta untuk memberi penjelasan. Tapi ketika naluri keimanan dan mata keyakinan hati yang diminta untuk menjelaskannya, maka semuanya akan terjawab dengan begitu mudah.

Keteguhan ini pula yang membuat hidayah bisa mampu menyelinap masuk ke dalam relung hati kedua polisi yang ditugaskan untuk mengeksekusi seorang Sayyid Quthb. Ya, melalui perantara senyuman seorang laki-laki yang akan diikat di tiang gantungan yang ternyata mampu menghadirkan hidayah bagi para algojo tersebut!! Sebagaimana yang dikisahkan dalam buku al-‘aaiduuna ilalloH (orang-orang yang kembali ke jalan AlloH). Tentu tidak sembarang orang memiliki kebesaran jiwa dalam menghadapi tiang gantungan disertai senyuman yang tulus nan ikhlas ketika detik-detik hukuman itu akan segera dijalani. Tapi sadarkah kita, dibalik senyum yang indah itu tersimpan kekuatan jiwa yang luar biasa. Dan kekuatan itu hadir setelah melalui proses penempaan yang luar biasa dari apa yang dialami oleh seorang Sayyid Quthb.

Menyikapi keteguhan Sayyid Quthb yang luar biasa ini Anis Matta memberikan sedikit gambaran dan penjelasan bagi kita, “Ada banyak peristiwa dalam kehidupan kita, di mana sikap-sikap imaniyah seperti keikhlasan, keteguhan, kebesaran jiwa dan lainnya, terungkap dalam perilaku, atau sorot mata, atau senyum. Sikap imaniyah itu tidak terungkap lewat kata. Sebab kata tidak selalu mewakili sikap jiwa bagi sebagian orang yang tidak amanah. Tapi dalam perilaku, sorot mata atau senyum, sebuah makna agung dari keyakinan keislaman kita, terwakili.” Dari pemaparan singkat beliau kita dapat memahami bahwa segala bentuk ekspresi, persangkaan, cara pandang, respon serta sikap kita dalam setiap peristiwa yang dialami tentu menjadi cerminan dari bahasa jiwa dan keyakinan kita. Dan dari hal yang sederhana itu pula dapat terukur bagaimana kekuatan jiwa yang kita miliki.

Dalam sejarah, keteguhan dari para pahlawan agung tak bisa dilepaskan dari kiprah dan gerak mereka yang konsisten dan tak pernah lelah. Gerak pula yang mampu menjaga mereka dari sifat lemah dan kekerdilan jiwa ketika menghadapi sang tirani. Bahkan gerak itu pula yang membuat mereka mampu mengeliminir penyakit yang diderita sekaligus menjaga mereka. Sebagaimana Syaikh Ahmad Yassin yang mampu mengobarkan semangat perjuangan bagi rakyat Palestina walaupun dalam kondisi lumpuh di atas kursi roda. Mereka memaknai harokah yang aslinya bermakna gerak atau gerakan sebagai upaya mereka untuk terus menggulirkan kebajikan guna membendung dan melawan kebatilan yang ada di muka bumi ini.

Filosofis air mengajarkan kita banyak hal dan pembelajaran. Air yang senantiasa bergerak maka ia akan tetap terjaga dari kebusukan dan justru menghadirkan kebermanfaatan. Di sisi lain, untuk menghasilkan daya dobrak yang besar ia harus terhimpun dalam kuantitas yang banyak serta dalam satu irama dan sapuan gelombang yang beriringan. Air bah yang menerjang kaum nuh memberikan ‘ibroh bagi kita bahwa ketika AlloH hendak menghilangkan sebuah peradaban yang telah rusak tatanan kehidupannnya dan menggantinya dengan peradaban baru yang nanti akan menjadi cikal bakal dalam terbentuknya peradaban Islam, dibutuhkan gerak langkah yang besar dan seirama dalam prosesnya.

Istiqomah menjadi kata kunci dalam pencapaian cita-cita yang mulia. Muhammad Natsir pernah berkata, “Saya tidak takut masa depan, karena tidak ada bahaya. Masa depan milik umat Islam, jika mereka tetap istiqomah; baik secara pribadi atau kolektif.” Jadi jelaslah, istiqomah (konsistensi) yang akan membawa kita ke garis finish dari perjuangan kita. Dan ini pula yang akan menjadi ajang pembuktian dari diri kita masing-masing. Seperti juga yang diungkapkan oleh Anis Matta, “Konsistensi itu adalah jaring pengaman dari kemungkinan kita mengalami surut setelah pasang dalam sejarah. Perjuangan kita terletak si situ; pada upaya untuk tetap konsisten sepanjang waktu seluas ruang “.

“Komitmen itu sendiri harus bertumpu pada sebuah nilai yang kita yakini. Sebab, nilai itulah energi yang akan memberi kita daya dorong. Sebagai seorang muslim, nilai itu utamanya kita unduh dari ajaran-ajaran agama yang mulia. Selanjutnya nilai-nilai luhur yang lazim dan menjadi kaidah umum kemanusiaan di antara kita. Keyakinan pada nilai-nilai itulah yang akan meluluhkan angkuh pada diri kita. Keyakinan pada nilai pula yang akan menjadikan pikiran kita menemukan logika atas keputusan kita untuk berkomitmen. Keyakinan pada nilai itu pula yang akan memberi kita daya tahan untuk terus berbuat. Pada akhirnya, keyakinan pada nilai itu pula yang akan menghibur diri kita atas segala lelah dan cemas yang menghampiri kita. Maka peduli dan kemauan untuk berkomitmen, sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kuat atau lemahnya ikatan kita pada nilai-nilai yang kita yakini.” (Tarbawi, edisi 245 Th.12 Rabiul Awwal 1432 H).

Maka tatkala lelah dan keraguan mulai menghambat bahkan menghentikan gerak kita dalam setiap amal kebajikan, segeralah berbenah dan mulai memperbaharui tashowwur (cara pandang) dan intima’ (komitmen) kita terhadap kebajikan tersebut. Karena hakikatnya, kebajikan yang kita upayakan itu akan berbalas dengan kebajikan pula bagi diri kita. Sebagaimana yang difirmankan AlloH SWT,

öهَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ ÇÏÉÈ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rohmaan: 60)

Ada sebuah percobaan menarik untuk melihat bagaimana ujian dan tantangan bisa mempengaruhi usia kehidupan. Dalam sebuah simulasi di kolam buatan, hiduplah ikan salmon dalam jumlah yang banyak. Di kolam buatan tersebut, ikan salmon diberi makan dan dibiarkan hidup “tenang” dalam kolam buatan tersebut. Akan tetapi, seiring dengan waktu ternyata jumlah ikan salmon yang hidup semakin berkurang karena setiap harinya ada ikan salmon yang mati. Hal ini menimbulkan tanda tanya dari pemiliki kolam buatan tersebut. Lantas, terbesit sebuah ide “usil” untuk menaruh seekor anak ikan hiu yang kecil di kolam buatan tersebut. Memang kehadiran anak ikan hiu tersebut membuat resah dari ikan salmon yang masih tersisa. Kehidupan ikan salmon yang masih hidup tersebut jelas terganggu dan senantias diliputi perasaan cemas serta was-was. Akan tetapi, disinilah keajaiban itu muncul. Jumlah ikan salmon yang mati justru semakin berkurang dan mereka justru terlihat lebih aktif bergerak. Memang awalnya mereka merasa takut karena khawatir diganggu dan dimangsa oleh anak ikan hiu yang ada. Tapi, justru itulah yang membuat mereka bisa bertahan (survive). Hal ini semakin membuat mereka lebih waspada, antisipatif dan dinamis dalam bergerak di kolam buatan tersebut. Ternyata, ikan salmon tetap bisa bertahan hidup justru di saat munculnya tantangan dan ancaman kehidupan sehingga “memaksa” mereka agar senantiasa terus bergerak. Bergerak,!! Karena diam berarti mati bagi kehidupan mereka.

Demikian juga dalam hal kehidupan. Permasalahan, tantangan, ujian, fitnah dan cobaan sejatinya dibutuhkan bagi manusia untuk mempertahankan kehidupan. Karena itu semua dapat berfungsi layaknya anak ikan hiu bagi sekumpulan ikan salmon di kolam buatan tersebut. “Zona nyaman” yang ada pada kehidupan kita justru membuat kita “mati” secara ma’nawi tanpa disadari seperti ikan salmon yang awalnya berada di kolam buatan dengan kondisi yang dimanjakan dengan makanan dan tidak ada kejutan/tantangan.

Semoga AlloH senantiasa menegarkan langkah dan pijakan kita di jalan yang kita yakini ini kemuliaannya. Jalannya para nabi dan syuhada’ serta pahlwan agung dalam meraih peradaban mulia nan hakiki. Jalan ini memang panjang dan mungkin tidak semua orang akan bersabar dan bertahan untuk tetap melangkah. Akan tetapi, jangan biarkan diri kita menjadi bagian dari orang-orang yang tidak sabar dan tidak kuat untuk melangkah. Ketika lelah yang dirasakan semakin menjadi-jadi, maka yakinilah bahwa ganjaran kebajikan yang kan diterima insya AlloH akan semakin besar pula manakala keihlasan kita tetap terjaga. Tatkala jalan ini semakin terjal dan berliku, maka yakinilah bahwa semakin dekat kejayaan islam yang akan dapat kita raih. Tak masalah meskipun harus tertatih ataupun merangkak, yang pasti dan utama bahwasannya kita akan tetap terus bergerak dalam melangkah maju ke depan.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا ÇËÌÈ

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzaab: 23)

Wallohualam walillahil izzah

Read more!

Jumat, 16 April 2010

Membangun Kepribadian


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman,

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)

Urgensi Kepribadian Islami

Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.


Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.

Ruang Lingkung Kepribadian Islami

Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:

A. Ruhiyah (Ma’nawiyah)

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy Syams: 7-10).

Dan dalam surat Al Hadid ayat 16:

Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab di dalamnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” QS. Al-Hadid:16).

Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal saleh dan dia juga memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai problematika kehidupan.

Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ma’nawiyah seseorang adalah:

a. Aspek Aqidah. Ruhiyah yang baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah. Padahal aqidah adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab itu kalau ingin aqidahnya terbangun dengan baik maka ruhiyahnya harus dikokohkan. Jadi ruhiyah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim karena dia akan mempengaruhi bangunan aqidahnya.

b. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang. Akhlaq merupakan bagian penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur kesempurnaan iman seseorang. Terawatnya ruhiyah akan membuahkan bagusnya akhlaq seseorang. Allah swt dalam beberapa ayat senantiasa menggandengkan antara iman dengan berbuat baik. Rasulullah saw pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya ternyata jawab Rasulullah saw adalah yang baik akhlaqnya (“ahsanuhum khuluqan”)

أي المؤمنين افضل إيمانا ؟ قال احسنهم خلقا. رواه ابو داود والترمذى والنسائ والحاكم.

“Mukmin mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah ” yang paling baik akhlaqnya” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Bahkan diutusnya Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- pun untuk menyempurnakan akhlaq manusia sehingga menjadi akhlaq yang islami

َ إًَِنما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق

Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-Qur’an. Itulah sebabnya akhlaq keseharian Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- merupakan cerminan dari Al-Qur’an yang beliau yakini. Hal ini terbukti dari jawaban Aisyah ra ketika ditanya tentang bagaimana akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- , jawab beliau “Akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- adalah al-Qur’an.

كان خلقه القرآن

c. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang….

B. Fikriyah (‘Aqliyah)

Kepribadian Islami juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikrah, kekuatan akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:

a. Wawasan keislaman. Sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.

b. Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus dibangun dalam diri seorang muslim. Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”

افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون

Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ- bukan sebaliknya.

c. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah swt.

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Di surat Ali Imran: 102 Allah SWT menjelaskan,

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- mengajarkan do’a kepada ummatnya, sebagai berikut:

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك (رواه الترمذى)

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami untuk tetap berada pada agamaMu “

C. Amaliyah (Harokiyah)

Di antara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliyahnya. Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb ( meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.

“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Umat Islam dituntut oleh Allah –subhânahu wa ta`âlâ- untuk menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun yang kolektif bahkan kewajiban yang sistemik. Kewajiban individual akan lebih khusyu’ dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang dengan sistem yang kondusif. Shalat, puasa , zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan lebih khusyu’ kalau dilaksanakan di tengah suasana yang aman tenteram dan kondusif. Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad dsb, mutlak memerlukan ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan terlaksananya amal tersebut.

Pentingnya amaliyah harakiah dalam kehidupan seorang mukmin laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut. Demikian juga seorang muslim semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa. Simaklah QS. Huud: 114

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan yang buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)

Ada sedikitnya tiga alasan kenapa seorang harus beramal:

1. Kewajiban diri pribadi.

Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal yang sia-sia. Baik jin dan manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah, menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-. Amalan adalah bentuk refleksi dari rasa penghambaan diri kepada Dzat yang mencipta.

Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)

Di samping itu pertanggungjawaban di depan mahkamah Allah nanti bersifat individu. Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.

“Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. an-Najm: 39-41).

2. Kewajiban terhadap keluarga.

Keluarga adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan memiliki pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang dituntut untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk keluarga yang Islami, sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa melalui pembentukan keluarga yang baik dan islami.

Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim :6)

Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmat untuk Islam, seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami di seluruh bidang kehidupan.

3. Kewajiban terhadap dakwah.

Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri dan keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan dakwah. Islam tidak hanya menuntut seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.

dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:71)

“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Juga di dalam surat Fushshilat ayat 33:

“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Allahu a’lam.


---taken from http://www.dakwatuna.com/2009/membangun-kepribadian-islami/ ----
Read more!